KLASIFIKASI ILMU & ILMU PENGETAHUAN

Klasifikasi Ilmu Pengetahuan

definisi

Ilmu Pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (material saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

  1. Periodisasi Perkembangan Ilmu

Perkembangan ilmu dapat diidentifikasikan ke dalam beberapa periode berikut:

  1. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Periode Pra Yunani Kuno

Catatan mengenai peradaban manusia yang paling awal tercatat berasal dari Timur Tengah, persisnya Mesir. Pada jaman pra sejarah, nenek moyang manusia modern di Mesir sudah mengenal bahasa, terbukti dengan peninggalan tulisan-tulisan yang diukir di batu-batu dalam goa. Sejarah mencatat bahwa bangsa Mesir kuno sudah mengenal ilmu bintang, ilmu bumi, arsitektur dan sebagainya. Bangsa Mesir kemudian juga mengembangkan papyrus (sejenis kulit kayu) yang dijadikan bahan tulis (tahun 3000 sebelum Masehi).

Di Cina sekitar (2953-2838 SM), raja Fu Xi memperkenalkan kitab Yi Jing (bacanya: I ching) yaitu kitab Cina kuno yang sangat terkenal di kalangan kaum penghayat ilmu Metafisika yang bertutur tentang kehidupan manusia. 

Di zaman dinasti Xia (2205-1766 SM) dikenal dengan nama Gui Cang (kembali ke kegaiban). Lalu di masa dinasti Zhou (1066-221 SM) populer dengan sebutan Zhou Yi (kitab perubahan dari dinasti Zhou), dan akhirnya, kini dikenal sebagai Yi jing (dibaca: i Ching), yang secara harfiyah berati kitab tentang perubahan. 

Adapun ciri-ciri ilmu pengetahuan pada zaman ini sebagai berikut:

  1.  Know how bagaimana cara berbuat) dalam kehidupan sehari-hari yang didasrakan pada pengalaman.
  2.  Pengetahuan yang berdasarkan pengalaman itu diterima sebagai fakta dengan sikap reseptif mind, keterangan masih dihubungkan dengan kekuatan magic.
  3. Kemampuan menemukan abjad dan sistim bilangan alam sudah menampakkan perkembangan pemikiran manusia ke atas abstraksi.
  4.  Kemampuan menulis, berhitung, menyusun kalender yang didasarkan atas sintesa terhadap hasil abstraksi yang dilakukan.
  5.   Kemampuan meramal suatu peristiwa atas dasar peristiwa-peristiwa sebelumnya yang pernah terjadi. Misalnya gerhana bulan dan matahari
  6. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Zaman Yunani Kuno (abad 6 SM-6 M)

Pada zaman ini dianggap sebagai zaman keemasan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 

  1. Pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya.
  2. Masyarakat pada masa ini tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi yang dianggap sebagai suatu bentuk pseudo-rasional.
  3. Masyarakat tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap reseptif attitude (sikap menerima begitu saja) melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis) sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir-ahli pikir terkenal sepanjang masa. Tokoh atau ilmuwan masa yunani kuno antara lain: Thales, yang mempelajari astronomi dan topik-topik pengetahuan termasuk fisika.

Dan sebagian sarjana mengakuinya pula sebagai ilmuwan pertama di dunia. Thales mempertanyakan asal mula, sifat dasar dan struktur komposisi alam, yang menurutnya semuanya berasal dari air sebagai materi daasar kosmis. 

Pytagoras (572-497 SM) adalah seorang ahli matematika yang lebih terkenal Dalailny dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. 13

Dan mendirikan aliran filsafat Pythagorianisme yang mengemukakan sebuah ajaran metafisis bahwa bilangan merupakan intisari dari semua benda maupun dasar pokok dari sifat-sifat benda. 

Tokoh lainnya yaitu Demokritus (460-370 SM) yang menegaskan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang disebutnya dengan atom. Pandangan Demokritus ini merupakan cikal bakal perkembangan ilmu fisika, kimia dan biologi.

Plato (428-348 SM) yang berpendapat bahwa geometri sebagai pengetahuan rasional berdasarkan akal murni menjadi kunci ke arah ilmu pengetahuan serta bagian pemahaman mengenai sifat dasar dari kenyataan yang terakhir. Geometri merupakan suatu ilmu yang dengan akal murni membuktikan proporsi-proporsi abstrak mengenai hal-hal yang abstrak. Begitu pentingnya geometri bagi filsafat menurut Plato sehingga konon pintu gerbang akademi Plato tertulis ” janganlah orang masuk ke sini jika ia tidak mengetahui geometri

Aristoteles (384-322 SM) yang berpendapat bahwa filasafat dan ilmu tergolong sebagai pengetahuan rasional, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran atau rasio manusia, yang dapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu: Praktike (pengetahuan praktis), Poietike (pengetahuan produktif) dan theoretike (pengetahuan teoritis). Adapun Theoritike dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu: Mathematike (pengetahuan matematika), Phisike (pengetahuan fisika) dan Prote philosophia (filsafat pertama).

  1. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Zaman Pertengahan (Middle Age : 6-16 M)

Zaman pertengahan atau yang disebut Middle Age ditandai dengan tampilnya para theolog di lapangan ilmu pengetahuan di belahan dunia eropa. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua para theolog, sehingga aktifitas ilmiah terkait dengan aktifitas keagamaan yaitu agama Kristen, atau dengan kata lain, kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah Ancilla Theologia (abdi agama).

Sebaliknya di dunia Timur terutama Negara-negara Islam justru terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Kalau di daerah Barat pada zaman pertengahan lebih berkutat pada masalah-masalah keagamaan, maka berbeda dengan peradaban dunia Islam yang saat itu melakukan penerjemahan besar-besaran terhadap karya-karya filosof yunani dan berbagai temuan di lapangan ilmiah lainya. Bani Umayyah sebagai salah satu contohnya telah menemukan suatu cara pengamatan astronomi pada abad 7 Masehi, yaitu sekitar 8 abad sebelum Galileo Galilei dan Copernicus. Sedangkan kebudayaan Islam yang menaklukkan Persia abd 8 Masehi telah mendirikan sekolah kedokteran di Jundishapur. Pada zaman keemasan kebudayaan Islam dilakukan penerjemahan berbagai karya Yunani dan bahkan Kholifah Al Makmun telah mendirikan Rumah kebajikan  (House Wisdom) pada abad 9 Masehi. Itu artinya bahwa perjalanan peradaban islam sudah jauh lebih dulu terbentuk dibandingkan peradaban Barat.

Sumbangan sarjana Islam dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bidang, yaitu:

  1.   Menterjemahkan peninggalan bangsa Yunani dan menyebarluaskan sedemikian rupa, sehingga dapat dikenal dunia Barat seperti sekarang ini.
  2.  Memperluas pengamatan dalam ilmu Kedokteran, obat-obatan, astronomi, ilmu kimia, ilmu bumi dan ilmu tumbuh-tumbuhan.
  3.   Menegaskan sistim decimal dan dasar-dasar aljabar.

Pada zaman pertengahan ini, Eropa berada dalam masa tidur panjang akibat pengaruh dogma-dogma agama sedangkan kebudayaan Islam di zaman dinasti Abbasiyah berada pada puncak keemasannya. Ali Kettani menengarahi kemajuan umat Islam pada masa itu lantaran didukung semangat sebagai berikut: 

  1. Universalism
  2. Tolerance
  3. International Character of the market
  4. respect for science and scintist
  5. the Islam nature of both the end and means of science.

Universalism artinya pengembangan iptek mengatasi sekat-sekat kekuasaan, kebangsaan, bahkan keagamaan. Tolerance artinya sikap tenggangrasa dalam pengembangan iptek dimaksud untuk membuka cakrawala di kalangan para ilmuan sehingga perbedaan pendapat dianggap sebagai pemicu ke arah kemajuan, bukan sebagai penghalang. Di zaman dinasti Abbasiyah perpustakaan Darul Himah membuka pintu bagi para ilmuan non muslim untuk memanfaatkan dan mempelajari berbagai literatur yang ada di dalamnya. Pemasaran hasil iptek merupakan suatu wahana untuk menjamin kontinyuitas aktifitas ilmiah itu sendiri, karena itu, International character of the market (pasar yang bersifat internasional) sangatlah dibutuhkan. Respect for science and scientist (penghargaan yang tinggi) dalam arti setiap temuan dihargai secara layak sebagai hasil jerih payah atas usaha seseorang atau sekelompok orang. The Islam nature of both the end and means of science artinya, sarana dan tujuan iptek haruslah terkait dengan nilai-nilai agama artinya, setiap kegiatan ilmiah tidak boleh bebas nilai, apalagi nilai agama. Sebab ilmuan yang melepaskan diri dari nilai-nilai agama akan terperangkap pada arogansi intelektual, dan menjadikan perkembangan iptek yang depersonalisasi dan dehumanisasi.

Tanda lain dari keemasan Islam (Golden Age) adalah kemajuan pesat ilmu dengan memperkenalkan sistim desimal. Filsuf muslim Al Khawaruzmi yang mengembangkan trigonometri dengan memperkenalkan teori sinus dan cosinus, tangent dan cotangent. Ilmu Fisika menampilkan Fisikus asal Baghdad Musa Ibnu Syakir dan putranya Muhammad, Ahmad dan Hasan yang mengarang kitab Al Hiyal yang menggambarkan hukum-hukum mekanik dan stabilitas. Ibnu Al Haytham (965-1039 M) yang mengarang kitab Al-Manadhir, yang membuktikan hukum refraksi cahaya. 

Bidang astronomi pada awalnya diterjemahkan pada zaman bani Umayyah dan dilanjutkan pada zaman bani Abbasiyah awal. Ibnu Habib Al Farisi (777 M) merupakan ilmuan muslim pertama yang menerjemahkan karya Ptolemy yang berjudul Almagest. Bidang ilmu Kimia menampilkan Jabir Ibnu Hayyan Al Kufi dari Kufah yang memiliki Laboratorium dekat Bawabah Damaskus yang melakukan percobaan pada pancaindera, penggunaan metalik, dan lain-lain. Jabir menggambarkan eksperimen yang dilakukan dalam kalimat berikut ini: ”Pertama kali saya mengetahui sesuatu dengan tangan dan otak saya, dan saya menyelidiki sesuatu itu sampai benar, dan mencari kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya

Sejak zaman Rasulullah, bidang ilmu kedokteran di dunia Islam sebenarnya sudah dirintis dengan mendirikan rumah sakit di Madinah, termasuk rumah sakit untuk angkatan perang Islam. Ar Razi merupakan ahli medis  muslim pertama yang memimpin rumah sakit Baghdad. Ar Razi menulis buku tentang Diet, farmakologi dan lain-lain. Buku medis lainya ditulis oleh Ali Ibnu Abbas Al ahwazi (940 M) Al Kitab Al Maliki tentang teori dan praktik medis. Ibnu Siena juga mengarang buku  teks tentang medis yang berjudul Al Qanun, yang menjadi buku standar selama 500 tahun dalam dunia Islam dan Eropa. Ibnu Siena juga meneliti tentang masalah anatomi, kesehatan anak, gynaesology.

Di bidang Geografi, para ilmuan muslim mengembangkan jarum magnetic untuk dipergunakan dalam navigasi dan penemuan kompas, sehingga mereka berjasa dalam penemuan pulau-pulau baru dan rute laut lingkar Asia, Afrika dan Eropa. Para petualang muslim menjelajahi cina, Jepang, India, Asia Tenggara, da Samudra Hindia, Eropa termasuk Skandinavia, Irlandia, Jerman, Perancis dan Rusia. Pada abad kesembilan  ahli Geografi muslim Ahmad Ibnu Ya’kub menggambarkan perjalanan dalam kitab Al Buldan dan Ubayd-Allah ibnu Abd-allah ibnu Khurd Dhabah (825-912 M) yang mempublikasikan bukunya Al Masalik wa Al Mamalik (garis Edar dan Kerajaan). 

  1. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Zaman Renaissance (abad 14-16 M)

Zaman Renaissance ditandai sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance ialah zaman peralihan ketika kebudayaan abad tengah mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman renaissance adalah manusia yang merindukan pemikiran yang bebas seperti zaman Yunani kuno. Pada zaman renaissance manusia disebut sebagai animal rationale, karena pada masa ini pemikiran manusia mulai bebas dan berkembang. Manusia akan mencapai kemajuan (progress) atas hasil usahanya sendiri, tidak didasarkan campur tangan ilahi.

Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern sudah mulai dirintis pada zaman renaissance. Ilmu pengetahuan yang berkembang maju pada masa ini adalah bidang astromoni. Tokoh-tokohnya yang terkenal seperti: Nicolus copernicus (1473-1543) seorang tokoh gerejani yang ortodok yang mengemukakan bahwa matahari berada di pusat jagat raya bumi mempunyai dua macam gerak yaitu: perputaran sehari-hari pada porosnya dan perputaran tahunan mengelilingi matahari. Teorinya ini disebut “Heliloisme” dimana matahari adalah pusat jagat raya bukan bumi sebagaimana dikemukakan oleh Ptolomeus yang diperkuat oleh Gereja. Ilmuwan lainnya pada periode ini adalah Kepler dan Gelileo Gelilei. Langkah-langkah yang dilakukan Galileo dalam bidang ini menanamkan pengaruh kuat bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern, karena menunjukkan beberapa hal seperti: pengamatan (observasi), penyingkiran (eliminasi) segala hal yang tidak termasuk dalam peristiwa yang diamati. Idealisasi, penyusunan teori secara spekulatif ats peristiwa tersebut, peramalan (prediction), pengukuran (measurement), dan percobaan (experiment) untuk menguji teori yang didasarkan pada ramalan matematik.

  1. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Zaman Modern (Abad 17-19 M)

Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman  modern ini sesungguhnya sudah dirintis sejak  zaman  Renaissance, yaitu  permulaan abad  XIV. Benua Eropa  dipandang sebagai basis perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini menurut Slamet Imam Santoso sebenarnya mempunyai tiga sumber yaitu:

  1.  Hubungan antara kerajaan Islam di semenanjung Iberia dengan Negara-negara Perancis. Para pendeta di Perancis banyak yang belajar di Spanyol, kemudian mereka inilah yang menyebarkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya itu di lembaga-lembaga pendidikan di Perancis.
  2.  Perang Salib (1100-1300) yang terulang sebanyak enam kali tidak hanya menjadi ajang peperangan fisik, namun juga menjadikan para tentara atau serdadu Eropa yang berasal dari berbagai negara itu menyadari kemajuan negara-negara Islam, sehingga mereka menyebarkan ajaran pengalaman  mereka itu sekembalinya di negara masing-masing.
  3.  Pada tahun 1453 Istambul jatuh ke tangan Bangsa Turki, sehingga para pendeta atau sarjana mengungsi ke Italia atau negara-negara lain. Mereka ini menjadi pioner-pioner bagi pengembangan ilmu di Eropa.

Tokoh yang terkenal sebagai bapak Filsafat modern adalah Rene Descrates. Ia telah mewariskan suatu metode berfikir yang menjadi landasan berfikir dalam ilmu pengetahuan modern. Langkah-langkah descrates adalah sebagai berikut:

  1.  Tidak menerima apapun sebagai hal yang benar kecuali kalau diyakini sendiri bahwa itu memang benar.
  2. Memilah-milah masalah menjadi bagian-bagian terkecil untuk mempermudah permasalahan.
  3.   Berfikir runtut mulai dari hal yang sederhana sedikit demi sedikit untuk sampai ke hal yang paling rumit.
  4.  Perincian yang lengkap dan pemeriksaan yang menyeluruh diperlukan supaya tidak ada yang terlupakan.

Perkembangan ilmu mencapai puncak kejayaan di tangan Newton. Ilmuwan Inggris ini antara lain merumuskan teori gaya berat dan kaidah-kaidah mekanika dalam karya tulis yang diberi judul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica Asas-asas matematika dari filsafat alam)

  1. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Zaman Kontemporer (Abad 20 dan seterusnya)

Diantara ilmu-ilmu khusus yang dibicarakan para filsuf, maka bidang fisika menempati kedudukan yang paling tinggi. Menurut Root Fisika dipandang sebagai ilmu pengetauan yang subjek materinya mengandung unsur-unsur  fundamentasil yang membentuk alam semesta. 

Fisikawan termashur abad keduapuluh adalah Albert Einstein. Ia mengatakan bahwa alam itu tak terhingga dan tak terbatas, tetapi juga bersifat statis dari waktu ke waktu. Einstein percaya akan kekekalan materi. Ini berarti bahwa alam semesta ini bersifat kekal, atau dengan kata lain tidak mengakui adanya pencipata alam. Namun pada tahun 1929 seorang fisikawan lain Hubble yang mempergunakan teropong terbesar di dunia melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi. Observasi ini menunjukkan bahwa alam semesta ini tidak statis, melainkan dinamis, sehingga meruntuhkan pendapat Einstein tentang teori kekekalan materi dan alam semesta yang statis. Dan jagad raya ternyata berekspansi.

Disamping teori tentang fisika, teori alam semesta dan lain-lain, maka zaman kontemporer ini ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Mulai dari penemuan computer, berbagai satelit komunikasi, internet dan lain sebagainya. Mobilitas manusia yang sangat tinggi saat ini merupakan pengaruh teknologi komunikasi dan informasi. 

Dalam pertengahan abad ini, dapat pula disaksikan lahirnya serangkaian ilmu antar disiplin misalnya ilmu perilaku (behavioral science) yang menggabungkan ilmu psikologi dengan berbagai cabang ilmu sosial seperti sosiologi , antropologi untuk menelaah tingkah laku manusia. Contoh lain ilmu antar disiplin ialah Anatomi Sosial manusiawi (Human Social anatomy) yang memadukan anatomi, ilmu fosil, antropologi Ragawi, dan Etopologi studi tentang pola perilaku organisme)

Bidang ilmu lainnya juga mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga terjadi spesialisasi-spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Ilmuwan kontemporer cenderung mengetahui hal yang sedikit tapi secara mendalam. Ilmu kedokteran semakin menajam dalam spesialis dan sub-spesialis atau super-spesialis, demikian juga bidang-bidang lain. Di samping cenderung ke arah spesialisasi, kecenderungan lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainnya, sehingga dihasilkannya bidang ilmu baru, seperti: Bioteknologi yang dewasa ini dikenal dengan teknologi Kloning.

Demikian ulasan singkat seputar Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang dapat kita sampaikan, guna dijadikan sebagai tambahan informasi untuk anda, semoga bermanfaat.

situs: http://www.rangkumanmakalah.com

DAFTAR PUSTAKA

Bahm, Archie, J. Epistemology: Theory of Knowledge, Albuquerue: Harper ang Row Publisher, 1995

Ignas Kleden, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, Jakarta: LP3ES, 1987

Kuhn, Thomas, S, Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, penerjemah: Tjun Sujarman, Bandung: Remaja Karya, 1989

Mohammad Hatta, Pengantar ke Jalan Ilmu Pengetahuan, Cetakan VI, Jakarta: Mutiara, 1979

Rizal Muntasyir – Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008

Slamet Imam Santoso, Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan, jakrata:Sastra Hudaya, 1977

The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, yogyakarta: Liberti Yogyakarta, 2007

Toety Heraty, Aku dalam Budaya, Jakarta: Pusataka Jaya, 1984

Van Melsen, Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita, diterjemahkan oleh Bertens, Jakarta: gramedia, 1985

[1] Ignas Kleden, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, Jakarta:LP3ES, 1987, hal. 38

[2] Rizal Muntasyir-Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pusataka Pelajar, 2008, hal. 121-122

[3] Ibid, hal 122

[4] Slamet Imam Santoso, Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Sastra Hudaya, 1977, hal. 42

[5] Kuhn, thomas, S, Peran Paradigma dakam Revolusi Sains, Penerjemah: tjun Sujarman, Bandung: remadja Karya, 1989, hal.xi

[6] Mohammad hatta, Pengantar ke Jalan ilmu Pengetahuan, Cetakan VI jakarta: Mutiara, 1979, hal.17-23

[7] Kuhn, Thomas, S, Pera, hal.34

[8] Rizal Muntasir, Filsafat Ilmu, hal. 126

[9] Ibid, hal. 127

[10] Slamet Imam Santoso, sejarah, hal. 48

[11] the Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2007, hal. 11

[12] ibid, hal. 3

[13] ibid, hal. 31

[14] Rizal Muntasyir, filsafat Ilmu, hal. 62

[15] The Liang Gie, Pengantar, hal. 5

[16] ibid, hal.1

[17] Slamet Imam Santoso, Sejarah, hal. 50

[18] Van Melsen, Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita, diterjemahkan oleh Bertens, (Jakarta: Gramedia, 1985)

[19] Rizal Muntasyir, Filsafat Ilmu, hal. 129

[20] ibid, hal. 130

[21] Slamet Imam Santoso, Sejarah, hal. 53

[22] Rizal Muntasyir, Filsafat Ilmu, hal. 130

[23] Slamet Imam Santoso, Sejarah, hal. 65

[24] Rizal Muntasyir, Filsafat Ilmu, hal.70

[25] ibid, hal. 67

[26] Toety-Heraty, Aku dalam Budaya, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984), hal. 6

[27] The Liang Gie, Pengantar, hal. 13

[28] Bahm, Archie, J, Epistemology: theory of Knowledge, (Albuquerque: Herper and Row Publisher, 1995), hal. 14

[29] The Liang Gie, Pengantar, hal. 15

KARAKTERISTIK DAN KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN

 

  1. Pengertian Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan berasal dari dua kata yaitu ilmu dan pengetahuan. Sebenarnya nama ini mengalami yang namanya redudensi peristilahan (words redudancy), yang tujuannya untuk lebih menegaskan suatu makna, seperti jatuh ke bawah, naik ke atas dan lain sebagainya.

Pengetahuan : Persepsi subyek (manusia) atas obyek (riil dan gaib) atau fakta. Ada dua term pengetahuan, yaitu “pengetahuan ilmiah” dan “Pengetahuan Biasa“. Pengetahuan Biasa (knowledge) diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan pikiran, pengalaman, pancaindera dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara dan kegunaannya. Sedangkan “Pengetahuan Ilmiah” (science) juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan obyek, cara yang digunakan dan kegunaan dari pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah memperhatikan obyek ontologis, landasan epistemologis dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Baik Science atau knowledge pada dasamya keduanya merupakan hasil observasi pada fenomena alam atau fenomena sosial.

Ilmu, menurut An-Nabhani, adalah pengetahuan (knowledge, ma‘rifah) yang diperoleh melalui metode pengamatan (observation), percobaan (experiment), dan penarikan kesimpulan dari fakta empiris (inference). Contohnya adalah fisika, kimia, dan ilmu-ilmu eksperimental lainnya. Adapun tsaqâfah adalah pengetahuan yang diperoleh melalui metode pemberitahuan (al-ikhbâr), penyampaian transmisional (at-talaqqi), dan penyimpulan dari pemikiran (istinbâth). Contohnya adalah sejarah, bahasa, hukum, filsafat, dan segala pengetahuan non-eksperimental lainnya.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa pengetahuan hanya sekedar penarikan kesimpulan dari fakta atau empiris yang melalui pengamatan.

Sementara itu secara istilah, ilmu terdapat beberapa pendapat, antara lain:

v  Menurut Abdurrohman al akhdhori, ilmu adalah membuahkan pikiran akan arti dari sesuatu, contoh pisang, pikiran kita pasti dapat membayangkan arti dari kata pisang dalam pikiran.

v  Menurut Ashley Montagu, ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan studi dan pengalaman untuk menemukan hakekat dan prinsip tentang sesuatu yang sedang dipelajari.

v  Menurut Zakiah Darajat, ilmu adalah seperangkat rumusan pengembangan pengetahuan yang dilaksanakan secara obyektif, sistematis baik dengan pendekatan deduktif, maupun induktif yang dimanfaatkan untuk memperoleh keselamatan, kebahagiaan dan pengamanan manusia yang berasal dari Tuhan dan disimpulkan oleh manusia melalui hasil penemuan pemikiran oleh para ahli.

Zakiyah Darajat disini menganggap bahwa ilmu dengan ilmu pengetahuan itu sama, karena sebenarnya antara ilmu dengan ilmu  pengetahuan tersebut sama, hanya saja sebagaimana penulis terangkan diatas yaitu terjadi redudensi peristilahan.

Ilmu Pengetahuan : kumpulan pengetahuan yang benar disusun dengan sistem dan metode untuk mencapai tujuan yang berlaku universal dan dapat diuji/diverifikasi kebenarannya. Ada juga yang mengartikan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang (1) disusun metodis, sistematis dan koheren (“bertalian”) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan (realitas), dan yang (2) dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.

Dalam konteks ilmu sosial, ilmu pengetahuan adalah akumulasi pengetahuan-pengetahuan yang telah lalu sehingga membentuk suatu bangunan tertentu yang bisa dibenarkan dan bisa disalahkan.

  1. Karakteristik Umum Ilmu Pengetahuan

Ciri Ilmu perlu memperhatikan dua aspek, yaitu : sifat ilmu dan klasifikasi ilmu. Mengenai sifat ilmu akan dibahas dalam subbab ini, sedangkan mengenai klasifikasi ilmu akan dibahas pada subbab selanjutnya.

Ilmu pengetahuan mempunyai sifat, antara lain:

v  Sistematik

v  Konsisten (antara teori satu dengan yang lain tak bertentangan)

v  Eksplisit    (disepakati dapat secara universal, bukan hanya dikalangan kecil).

v  Ilmiah, benar (pembuktian dengan metode ilmiah).

Disamping itu suatu ilmu pengetahuan mempunyai ciri lain yaitu:

v  bukan satu, melainkan banyak (plural)

v  bersifat terbuka (dapat dikritik)

v  berkaitan dalam memecahkan.

Ciri khas nyata dari ilmu pengetahuan (science) yang tidak dapat diingkari meskipun oleh para ilmuwan adalah bahwa ia tidak mengenal kata “kekal”. Apa yang dianggap salah di masa silam misalnya, dapat diakui kebenarannya di abad modern. Pandangan terhadap persoalan-persoalan ilmiah silih berganti, bukan saja dalam lapangan pembahasan satu ilmu saja, tetapi terutama juga dalam teori-teori setiap cabang ilmu pengetahuan. Dahulu, misalnya, segala sesuatu diterangkan dalam konsep material (istilah-istilah kebendaan) sampai-sampai manusia pun hendak dikatagorikan dalam konsep tersebut. Sekarang ini terdapat psikologi yang membahas mengenai jiwa, budi dan semangat, telah mengambil tempat tersendiri dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Dalam redaksi lain dikatakan ilmu pengetahuan mempunyai ciri-ciri umum yaitu:

v  Obyek ilmu pengetahuan adalah empiris.

v  Ilmu pengetahuan mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu mempunyai sistematika.

v  Ilmu dihasilkan dari pengamatan, pengalaman studi dan pemikiran.

v  Sumber segala ilmu adalah Tuhan, karena Dia yang menciptakannya.

Fungsi ilmu adalah untuk keselamatan, kebahagiaan, pengamanan manusia dari segala sesuatu yang menyulitkan.

Van Melsen mengemukakan beberapa ciri yang menandai ilmu,  sebagaimana yang dikutip Rizal Muntasyir dan Misnal Munir, yaitu: (1) Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai keseluruhan yang secara logis koheren. Itu berarti adanya sistem dalam penelitian (metode) maupun harus (susunan logis). (2) Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan tanggung jawab ilmuwan. (3) Universalitas ilmu pengetahuan. (4) Objektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh objek dan tidak didistorsi oleh prasangka-prasangka subjektif. (5) Ilmu pengetahuan harus dapat diverifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan. (6) Progresifitas, artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan-pertanyaan baru dan menimbulkan problem-problem baru lagi. (7) Kritis, artinya tidak ada teori ilmiah yang difinitif, setiap teori terbuka bagi setiap peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru. (8) Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dengan praktis.

Jadi setiap ilmu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan bila memiliki ciri-ciri atau karakteristik umum diatas. Sementera itu mengenai karakteristik khusus ilmu pengetahuan setelah adanya klasifikasi ilmu pengetahuan akan diterangkan kemudian.

  1. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan

Dalam subbab ini Kami akan membahas mengenai klasifikasi ilmu pengetahuan menurut beberapa ahli. Salah satu Klasifikasi Ilmu :

v  Ilmu Alam (Natural Wissenschaft), Ilmu Alam / Eksakta

v  Ilmu Moral: Ilmu Sosial, Ilmu Humaniora

Dalam khazanah pengetahuan kontemporer, istilah ilmu dalam klasifikasi An-Nabhani di atas identik dengan ilmu-ilmu alam (natural sciences), yang sering disingkat ‘sains’, sedangkan tsaqâfah kurang lebih identik dengan ilmu-ilmu sosial (social sciences).

Sebagian intelektual, seperti Jujun S. Suriasumantri, mengklasifikasikan pengetahuan menjadi dua cabang besar, yaitu ilmu (science), (yang mencakup ilmu-ilmu alam dan sosial), dan humaniora (humanities). Humaniora, menurut Elwood  adalah seperangkat sikap dan perilaku moral manusia terhadap sesamanya  yang meliputi filsafat, moral, seni, sejarah, dan bahasa.

Istilah lain dikemukakan oleh S. Waqar Ahmed Husaini dalam bukunya Islamic Sciences, yang mengklasifikasikan pengetahuan menjadi dua, yaitu ilmu-ilmu alam (natural sicencies) dan ilmu-ilmu sosial-humaniora (humanistic-social sciences). Yang terakhir ini adalah gabungan ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Istilah tsaqâfah menurut An-Nabhani tampaknya lebih tepat diterjemahkan sebagai humanistic-social sciences (ilmu-ilmu sosial-humaniora), daripada sekadar social sciences.

Berkaitan dengan klasifikasi ilmu, penulis lulusan Universitas Chicago ini berpijak pada klasifikasi ilmu teoretis ala al-Farabi yang mengelompokkan ilmu ke dalam tiga ilmu utama: metafisika, matematika, dan ilmu-ilmu alam. Hemat penulis, ketiga kelompok utama ilmu ini akan membentuk klasifikasi ilmu rasional yang integral, tanpa menganaktirikan salah satunya.

Adapun klasifikasi ilmu-ilmu praktis, filsuf Muslim juga membaginya ke dalam tiga jenis, yaitu: etika, ekonomi, dan politik. Dalam hal metodologis, atensi ilmuan Barat terfokus pada metode observasi yang notabene menekankan potensi indra yang berorientasi fisik. Penekanan seperti ini bisa berdampak fatal karena observasi indra bisa saja meleset dan tak kuasa terhadap objek-objek metafisik. Untuk itu, potensi akal dan hati atau intuisi juga harus dilibatkan dalam pengkajian ilmiah. Jauh hari sebelumnya, tradisi filsafat Islam mengakomodasi seluruh potensi tersebut sebagaimana terlihat pada konsep Suhrawardi yang membagi pendekatan kepada dua macam, yaitu: diskursif (bahtsi) dan eksperiensial (dzauqi).

Sementara itu menurut ahli dari Malaysia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan sebagai berikut: Ilmu yang sifatnya “periksa” dapat dibagi menjadi dua cabang besar yaitu: 1. Ilmu-ilmu alam bernyawa seperti biologi, kedokteran, dsb. Dan 2. Ilmu-ilmu alam tak bernyawa seperti kimia, fisika, astronomi, dsb. Ungkapan-ungkapan “perasaan (rasa)” orang saat berinteraksi antar sesamanya, membuahkan 3. Ilmu untuk berinteraksi itu sendiri atau ilmu bahasa dan
4. Ilmu-ilmu sosial seperti filsafat, sejarah, politik, psikologi, ekonomi, administrasi, hukum, antropologi-sosial, demografi dsb.

The New Encyclopaedia Britannica membagi-kelompokkan sains yang dimiliki oleh manusia berdasarkan beberapa pohon ilmu sebagai berikut:

  1. Logika (logic)
  1.   Sejarah dan filsafat logika (History and philosophy of logic) yang terdiri dari: sejarah logika (History of Logic), filsafat logika, (Philosophy of Logic).
  2.   Logika formal, metalogika, logika terapan (Formal logic, metalogic, and applied logic) yang terdiri dari: logika formal (Formal logic), metalogika (Metalogic), logika terapan (Applied logic),
    1. Matematika (Mathematics).
  1. Sejarah dan landasan matematika (History and foundations of mathematics) yang terdiri dari: sejarah matematika (History of mathematics), landasan matematika (Foundations of mathematics).
  2.   Cabang-cabang matematik (Branches of mathematics) meliputi: Teori Himpunan (Set Theory), Aljabar (Algebra), Geometri (Geometry), Analisis (Analysis), Kombinatorika dan teori bilangan (Combinatories and number theory), Topologi (Topology),
  3.   Penerapan-penerapan matematika (Application of mathematics), meliputi: Matematika sebagai suatu ilmu berhitung (Mathematics as a calculatory science), Statistika (Statistic), Analisis numeris (Numerical analysis), Teori automata (Automata theory), Teori matematis optimisasi (Mathematical theory of optimization), Teori informasi (Information theory), Matematika tentang teori fisika (Mathematical aspects of physical theories).
    1. Ilmu Alam (Natural Science).
  1. Sejarah dan filsafat ilmu (History and philosophy of science) yang terdiri dari: Sejarah Ilmu (History of Science), Filsafat ilmu (Phylosphy of science),
  2.   Ilmu-ilmu Fisika (Physical sciences) yang dapat dibagi ke dalam: Sejarah ilmu fisika (History of the Physical science), Sifat dasar dan lingkup astronomi dan astrofisika (The nature of enscope of astronomy and astrophysics), Sifat dasar dan lingkup fisika (the Nature of enscope of Physics),Sifat dasar dan lingkup kimia (The nature of enscope of Chemistry),
  3.   Ilmu Bumi (the Earth science) yang membahas tentang: Sifat dasar dan sejarah ilmu bumi (The nature and history of the Earth science), Sifat dasar, lingkup dan metode-metode ilmu Bumi khusus (The nature, scope and methods of particular Earth science)
  4.   Ilmu-ilmu Biologi (The Biological sciences) yang terdiri dari: Perkembangan ilmu-ilmu biologi (Development of the Biological Sciences), Sifat dasar, lingkup dan metodologi Ilmu Biologis (The nature, scope and methodology of the Biological Sciences), Filsafat Biology (Philosophy of Biology).
  5.   Ilmu Kedokteran dan disiplin ilmu yang tergabung (Medicine and affiliated disciplines) yang membahas tentang: Sejarah Ilmu Kedokteran (History of medicine), Bidang-bidang praktek atau penelitian medis khusus (Field of Specialized medical practised or research), Displin ilmu yang tergabung dalam ilmu kedokteran (Disciplines of affiliated with medicine).
  6.    Ilmu Sosial dan psikologi (The social sciences and psychology) yang mencakup: Perkembangan ilmu sosial (Development of the Social sciences), Sifat dasar antropologi (The nature of anthropology), Sifat dasar sosiologi (The nature of sociology), Sifat dasar ilmu ekonomi (The nature of economics), Ilmu Politik (Political sciences), Sejarah dan metode psikologi (History and methods of Psychology),
  7.   Ilmu Teknologi (The technological sciences) yang mencakup: Sejarah ilmu teknologi (History of technological sciences), Segi-segi akademika dan profesional dari keinsinyuran (Academics and professional aspects of engineering), Sifat dasar dan cakupan ilmu pertanian (The nature and scope of agricultural sceinces), Sifat dasar dan cakupan displin antar ilmu yang baru dikembangkan (The nature and scope of presently developed intersciences disciplines),
  8. Sejarah dan humaniora (History and humanities). Sejarah dan Humaniora dapat dibagi lagi ke dalam:
  9.   Historiografi dan studi sejarah (historyography and the study ofhistory), meliputi: Historiografi (historyography), Penyelidikan dan penelitian sejarah modern (modern hitorical investigation and research), Filsafat sejarah (Philosophy of History),
  10.   Humaniora dan kesarjanaan humanistik (the Humanities and humanistics scholarship), meliputi: Sejarah kesarjanaan humanistik (History of humanistic scholarship), Humaniora (The humanities).
  11.   Filsafat (philosophy). Filsafat terdiri dari:
  12.   Sifat dasar dan pembagian filsafat (The nature and the divisions of philosophy), meliputi: Sifat dasar, lingkup dan metode filsafat (The nature, scope and methods of philosophy), Pembagian filsafat (The divisions of philosophy),
  13.   Sejarah filsafat (History of philosophy), meliputi: Penulisan sejarah filsafat (The writings of history of philosophy), Sejarah filsafat Barat (History of Western Philosophy), Filsafat bukan Barat (Non Westerns Philosophy), Filsafat yang berhubungan dengan agama (Philosophies associated with religions),
  14.   Aliran dan ajaran filsafat (Philosiphycals Schools and doctrines), meliputi: Aliran-aliran filsafat utama di Barat (Major Philosiphycal Schools in the West), Teori ada dan eksistensi (Theories of Beeing and Existence), Teori pikiran, pengetahuan dan daya budi (Theories of Thought and Knowledge and Faculties of Minds), Teori perilaku (Theories of conduct),

Sedangkan The World Book Encyclopedia membagi sains menjadi:

  1.   Matematika dan logika (Mathematics and logic). Contohnya: aritmatika, aljabar, kalkulus dan statistik.
  2.   Ilmu Fisika (The Physical science). Contohnya: Astronomi, kimia, geologi, meteorologi dan fisika.
  3.   Ilmu Kehidupan (The Life science). Contohnya: Zoologi, botani, fisiologi, taksonomi dan ekologi.
  4. Ilmu Sosial (Social science). Contohnya: Antropologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi dan ilmu sosial.

Sementara itu menurut penulis ilmu pengetahuan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

v  Ilmu kerohanian, yang meliputi: ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu agama.

v  Ilmu humaniora atau ilmu kebudayaan, yang meliputi: sastra, sejarah, ilmu pendidikan, dan ilmu filsafat.

v  Ilmu sosial, yang meliputi: ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu sosial politik, ilmu ketatanegaraan.

v  Ilmu eksakta dan tehnik, meliputi: ilmu hayat, ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu kedokteran hewan, ilmu pertanian, ilmu pasti dan alam, ilmu tehnik dan ilmu biologi.

  1. Karakteristik Masing-Masing Ilmu Pengetahuan

Dalam subbab ini penulis akan membahas lebih mendalam mengenai karakteristik dari klasifikasi ilmu pengetahuan yang penulis pilih atau kemukakan tadi.

Ilmu kerohanian, yang meliputi ilmu jiwa dan agama

Karakternya:

Obyek dari ilmu ini adalah hasil keyakinan manusia atau dapat dikatakan suatu keadaan spiritual manusia.

Sifat dari ilmu ini adalah subyektif.

Hasilnya adalah manusia akan lebih memperoleh ketenangan dalam menjalani hidupnya atau dapat dikatakan manusia akan mempunyai keyakinan.

Metodologinya yaitu dengan menganalisis hasil proyeksi kegiatan spiritual yang ditampakkan dalam aplikasi kegiatan sehari-hari.

Ilmu humaniora atau ilmu kebudayaan, yang meliputi: sastra, sejarah, ilmu pendidikan, dan ilmu filsafat.

Obyeknya adalah hasil tindakan manusia.

Sifatnya subyektif.

Hasilnya adalah manusia akan lebih menghargai hasil karya manusia lainnya. Salah satu maksud humaniora yaitu meluruskan jalan untuk pendidikan yang lebih lengkap dan harmonis.

Metodologinya adalah menganalisis hasil karya manusia yang tampak dalam dunia empiris.

Ilmu sosial, yang meliputi: ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu sosial politik, ilmu ketatanegaraan.

Obyeknya adalah hasil tindakan manusia.

Sifatnya subyektif.

Hasilnya manusia akan lebih toleran dengan manusia yang lainnya.

Ada 4 macam karakteristik pada ilmu sosial: Ontologi : Mengutamakan investigasi pada setiap fenomena bahwa apakah realita dapat berdiri sendiri atau berada dalam pemikiran kita saja. Epistemologi : Dasar pengetahuan tentang bagaimana mengerti dunia dan bagaimana mempelajari realita tersebut. Human Nature : Mempelajari hubungan antara manusia dan sesama manusia bahwa apakah tingkah laku manusia dapat dipastikan atau tidak. Metodologi : Gabungan dari ontological, epistomology, dan human nature yang berisi strategi untuk melakukan penelitian tersebut.

Dari 4 sifat dasar ilmu sosial, dipecah berdasarkan 2 pandangan dari sudut pandang subyektif dan obyektif.

Sudut Pandang Subyektif:  • Nominalisme : Asumsi bahwa realitas sosial adalah relatif dan dunia sosial di luar individu terbuat dari sekedar nama, konsep, label, yang membantu seseorang untuk membayangkan suatu kenyataan. • Anti-positivisme : Mencari di dunia sosial yang relatif dan hanya bisa dimengerti dari sudut pandang individu. • Voluntarisme : Berpandangan bahwa seseorang berpikir secara otomatis dan bebas. • Ideografis : Berdasar pandangan bahwa seseorang membuat, mengubah, dan mengerti dunia dengan mencari ilmu dengan investigasi secara subyektif. Sudut Pandang Obyektif : • Realisme : Asumsi bahwa dunia sosial di luar individu adalah dunia nyata yang terbentuk dari sesuatu yang keras, tidak berubah dan nyata. • Positivisme : Mencari penjelasan di dunia sosial dengan melihat segala aturan, parameter dan hubungan. Hal ini dapat dipahami dengan mengkotak-kotakkan suatu variabel tak terukur dan memberikan parameter ukuran pada variabel tersebut, kemudian membuat hubungan antar-variabel. • Determinisme : Berpandangan bahwa seseorang merupakan bagian yang diatur dan dipengaruhi oleh situasi dan lingkungan dimana ia berada. • Nomotetik : Berpandangan bahwa dengan menekankan pentingnya riset berprotokol dan sistematika yang baik untuk menganalisa hubungan dan keunikan antar elemen. Menggunakan tes kuantitatif seperti survey dan tes kepribadian.

Ilmu eksakta dan tehnik, meliputi: ilmu hayat, ilmu kedokteran, ilmu farmasi, ilmu kedokteran hewan, ilmu pertanian, ilmu pasti dan alam, ilmu tehnik dan ilmu biologi.

Obyek dari ilmu pengetahuan ini adalah alam.

Sifatnya adalah obyektif.

Hasilnya manusia akan lebih memperoleh kemudahan dalam menjalankan hidup.

  1. Robert Grosseteste (1170-1253).

Perintis teori ilmiah. Beliau memperkenalkan metode analisis, penggunaan pengamatan, percobaan, dan penyimpulan dalam membuat evaluasi ilmiah.
Beliau juga banyak mengacu pada pemikiran Platonis dan Aristoteli.

  1. Francis Bacon(1560-1626).

Dikenal sebagai Bapak Ilmu Kealaman yang mempunyai ajaran bahwa kebenaran harus dengan menggunakan pengumpulan fakta sebanyak-banyaknya, kemudian baru menarik kesimpulan.
Metode induktif pertama kali diterapkan oleh Bacon.

  1. Galileo Galilei (1564-1642).

Ilmuwan yang pertama kali memperkenalkan metode pendekatan ilmiah di eropa. Penemuannya yang terkenal adalah penelitian kembali terhadap teori Coppernicus tentang Heliosentrisme dengan menggunakan teleskop dan matematika.

Melalui pendekatan saintifiknya, ia berhasil menunjukkan bahwa teori geosentrisme yang dianut orang, ternyata salah dan tidak berdsasarkan pada pengamatan ilmiah

  1. Anthony Van Leeuwenhoek (1632-1723).

Penemu pertama kali mikroskop. Beliau melakukan penelitian di bidang IPA yang ditunjang dengan hasil penelitian.

  1. Al-Kindi (796 M-..).

Beliau meneliti banyak obyek IPA, dan berhasil menjelaskan secara rinci proses kimia, seperti penyaringan dan penyulingan.

Itulah kelima ilmuwan hebat sepanjang masa dalam bida ilmu pengetahuan alam.

sumber : http://www.google.co.id

                http://www.wikipedia.org

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s